Kehidupan Sosial
Masa Arab sebelum islam dikenal dengan sebutan Zaman Jailiyah. Keadaan bangsa Arab sebelum islam tidak mempunyai pemerintahan yang rapi, karena rakyat masih buta huruf. Namun, mereka sudah mempunyai tatanan kehidupan masyarakat menurut kebiasaan. Mereka merupakan bangsa yang seringkali berpindah tempat terdahulunya. Hal ini juga dipengaruhi oleh lingkungan alam di tanah Arab yang bergurun pasir dan bergunung-gunung.
Mereka juga merupakan bangsa pemberani di dalam membela pendiriannya, bahkan kalau perlu mereka berperang sampai titik darah penghabisan. Mereka tidak mau berubah dari tata kehidupan atau adat-istiadat yang sudah dimilikinya dan tetap teguh mempertahankan kepribadian Arabnya.
Kehidupan Budaya
Bangsa Arab pada zaman sebelum islam mempunyai adat-istiadat penuh takhayul sebaigamana bangsa-bangsa lain di dunia pada masa itu. Mereka juga dipandang memiliki akhlak yang tidak pantas seperti bermain judi, minum-minuman keras, berfoya-foya. Bahkan mereka melakukan pencurian dan perampokan pada suku-suku lain, sehingga menimbulkan perselisihan dan mempengaruhi bangsa-bangsa Arab tersebut.
Ada juga suku bangsa di Arab biasa melakukan tinadak kekejaman, yaitu dengan mengubur anak perempuannya hidup-hidup. Menurut kepercayaan, anak perempuan dipandang tidak berguna. Adat-istiadat ini berlangsung di Arab sebelum munculnya pemimpin-pemimpin yang baik yang dapat mengubah dan mempengaruhi bangsa-bangsa Arab tersebut.
Sesudah Islam Masuk
Secara politis, agama islam telah dapat dapat mempersatukan seluruh suku bangsa Arab yang dulunya terpecah belah. Agama islam berhasil mempersatukan menjadi bangsa yang di kemudian hari akan menjadi bangsa yang termahsyur.
Agama islam pertama kali diperkenalkan oleh Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada tanggal 20 April 571 M, dari keturunan suku Quraisy. Pada tahun 611 M, ia mulai mengajarkan atgama islam kepada bangsa Arab Mekkah. Penyebaran agama islam pertama kali di Mekkah ditentang, terutama oleh orang-orang Quraisy di bawah pimpinan Abu Sofyan.
Perkembangan Islam Periode Mekkah
Pada awalnya agama islam hanya berkembang di kota Mekkah dan sekitarnya. Penyebaran agama islam pada awlnya dilakukan sembunyi-sembunyi. Namun, agama hanya diterima oleh kalangan bawah seperti orang miskin, wanita pekerja maupun para budak. Sejak penyebaran islam dilakukan secara terbuka, munculnya berbagai perlawananyang menentangpenyebaran islam, seperti penyiksaan ancaman keselamatan terhadap para pengikut islam. Dengan keadaan seperti itu, pada tahun 615 Nabi Muhammad SAW mengungsikan sejumlah pengikutnya ke Habsyah, selanjutnya ke Abbesinis.
Faktor penyebab terjadinya perlawanan terhadap agama islam bukan semata-mata karena maslah agama yang dipandang bertentangan dengan kepercayaan asli masyarakat tetapi karena factor politik, yaitu khawatir terhadap kemungkinan keluarga Muthalib menguasai Mekkah, factor ekonomi, yaitu menurunnya para pemahat patung karena orang tidak ada lagi yang membeli patung sebagai alat pemujaan, dan factor social, karena kaum bangsawan atau raja tidak setuju disamakan dengan rakyat biasa.
Perlawanan di Mekkah terhadap islam semakin bertambah, sehingga kedudukan Nabi Muhammad SAW memutuskan untuk meninggalkan Mekkah dan hijrah ke Madinah.
Perkembangan Islam Periode Madinah
Pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 622 M, Nabi Muhammad Saw melakukan hijrah ke Madinah. Keadaan Madinah sangat jauh berbeda dengan Mekkah. Kalau di Mekkah Nabi Muhammad SAW dan umat islam dimusuhi serta mendapat perlawanan sehingga tidak mungkin untuk berkembang, maka di Madinah nabi Muhammad SAW disambut dengan gembira oleh masyarakat, karena kedatangan Nabi sudah lama diharapkan.
Di Madinah, perkembangan islam cukup pesat dan penganutnya bertambah banyak. Oleh karena itu, sejak Nabi Muhammad SAW menetap di Madinah, masyarakat Madinah terjadi menjadi 4 golongan yaitu:
Kaum Muhajirin, terdiri atas orang-orang Mekkah yang ikut serta melakukan hijrah dengan Nabi Muhammad SAW.
Kaum Anshor,terdiri atas orang-orang Madinah yang membantu Nabi Muhammad SAW.
Kaum Munafiqin,terdiri atas orang-orang yang hanya ikut memeluk agama islam untuk mencari keuntungan lahiriah belaka.
Kaum Yahudi, terdiri dari orang-orang pengikut Nabi Musa yang mengetahui ajaran agama islam, tetapi tidak meyakini Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi atau Rasul.
Setelah beberapa tahun lamanya Nab Muhammad menetap di Madinah, akhirnya turun perintah jihad. Jihad ini ditunjukkan untuk melawan Mekkah dan mempertahankan ka’bah. Pertempuran sengit terjadi di gurun Badar dan Uhud (tahun 630 M). Ka’bah berhasil dikuasai oleh orang-orang islam dan akhirnya penduduk Mekkah tunduk serta mau masuk islam. Setelah jatuhnya Mekkah, dala kurun waktu kurang lebih dua tahu sebagian besar Jazirah Arab telah memeluk agama islam. Orang-orang Yahudi Kristen yang mengakui kedaulatan agama islam dibiarkan tetap memeluk agama mereka masing-masing dan dilindungi harta serta jiwanya.
Kemenangan umat islam membawa bangsa Arab ke arah persatuan setelaj bangsa itu lama hidup dalam perpecahan. Agama islma merupakan ikatan bagi orang-orang Arab dalam suatu negara. Nabi Muhammad SAW berhasil dalam menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai Rasul dan sebagai pemmimpin negara. Namun, Nabi Muhammad Saw tidak dapat mengeyam rasa kejayaan islam yang gilang-gemilang, karena sesudah menegakkan dasar-dasar yang kukuh, pada tanggal 12 Rabiul Awal 632 M beliau wafat dan dimakamkan di Madinah.
Dengan wafatnya Nabi Muhammad Saw, tidak ada yang dapat menggantikan kedudukannya sebagai Rasul. Para Khalifah (wakil pengganti) Rasul Allah hanya dapat menggantikan dalam mengatur hidup menurut islam yang disebut Kekhalifahan.
Kekhalifahan
Setelah wafatnya Nabi Muhammad, muncullah para khalifah. Fungsi mereka menggantikan jabatan Nabi Muhammad SAW sebagai kepala negara, hakim, dan panglima perang. Jabatan khalifah ini terus berlangsung hingga tahun 1923 M, dan baru setelah Mustafa Kemal Pasha menjadi kepala negara, system kekhalifahan dihapuskan.
Khalifah adalah pemimpin umat islam pada jalan yang benar. Jabatan Khalifah ditentukan dan dipilih oleh para pemuka islam. Khalifah ang pernah berkuasa antara lain:
Khalifah Abu Bakar
Khalifah Abu Bakar berkuasa sejak 632 sampai 634 M. Ada beberapa tindakan yang penting dilaksanakan oleh Khalifah Abu Bakar :
Mengembalikan suku-suku Arab yang murtab ke agama islam
Membasmi nabi-nabi palsu.
Mulainya pengumpulan lembaran surat-surat Al-Qur’an.
Ekspansi islam keluar Jazirah Arab.
Muculnya kekuatan politik sebagai kekuatan politik baru Timur Tengah tidak disenangi oleh kekaisaran Byzatium dan Persia. Untuk menghalangi perkembangan politik islam, maka Byzatium dan Persia menghasut suku-suku Arab yang tinggal di perbatasan utara agare mengadakan pemberontakan terhadap politik islam. Pemberontaklan berhasil dipatahkan dan hal itu mendorong politik islam untuk meaksanakan ekspansinya keluar Jazirah islam.
Khalifah Umar bin Khattab
Khalifah ini berkuasa pada tahu 634-644 M. Ada beberapa tindakan penting dari pemerintahan Khalifah Umar di antaranya:
Tahun hijriah dijadikan permulaan tahun islam, yaitu 622 M sama dengan 1 tahun hijiriah.
Daerah islam diperluas sapai ke daerah perbatasan India dan Afrika Utara. Perluasaan wilayah ke Asia kecil dan Petsia dilakukan oleh Khalid bin Al Walid, sengkan ke Afrika Utara dipimpin oleh Amru bin Al As. Daerah taklukkannya diberi status otonomi yang laus. Mereka yang tidak mau masuk islam harus membayar pajak.
Akibat perluasan wilayah itu, islam mendapat kekuatan politik di daerah-daerah yang sejak dulu mempunyai kebudayaan terjadi perpaduan antara agama islam dan kebudayaan setempat, yang telah terkena pengaruh kebudayaan Yunani.
Khalifah Usman bin Affan
Jasa besar Khalifah Usman bin Affan (644-656 M) pada masa pemerintahannya adalah dibukukannya secara resmi kitab Al-Qur’an. Pekerjaan iuni diserahkan kepada Zaid bin Tsabit dan susunan Al-Qur’an itu hingga sekarang tidak mengalami perubahan.
Dalam menjalankan pemerintahannya Khalifah Usman bsangat dipengaruhi oleh keluarganya. Yaitu Umayyah. Bahkan Khalifah Usman lebih mendahulukan kepentingamn keluarga dibandingkan kepentingan negaranya, sehingga lambat laun timpul oposisi terhadap Usman. Pada tahun 655 M, Khalifah Usman mati terbunuh oleh pihak oposisi yang berasala dari orang islam sendiri.
Khalifah Ali bin Abi Thalib
Setelah berakhirnya pertentangan-pertentangan dalam tubuh islam maka Ali, menantu Nabi, menduduki jabatan kekhalifahan (656-661 M). Namun, keluarga Umayyah tidak menyetujui Ali sebagai khalifah dan mereka mencalonkan Mu’awiyah (Gubernur Syria) sebagai khalifah.akhirnya perang saudara tidak daoat dihindari lagi. Dalam pertempuran di Sirifin (657 M) pasukan Mu’awiyah hampir dapat dihancurkan tetapi Mu’awiyah menggunakan tipu daya dan berdalih untuk mencegah pertentangan, dengan diapa sebenarnya yang berhak menjadi khalifah. Ali terjebak dalam badan pengadilan yang terbentuk. Badan pengadilan menentukan bahwa yang menang adalah Mu’awiyah. Keputusan itu tidak memuaskan sebagia pengikut Ali, sehingga mereka membentuk kelompok Khawarji yang artinya keluar. Pada tahun 661 M Ali mati terbunuh oleh seseorang anggota khawarji. Sengan demikian dimulailah kekhalifahan Umayyah.
Kekhalifahan Umayyah
Setelah kedudukan khalifak dikuasai oleh keluarga Umayyah (675-750 M), pusat kekuasaan negara islam dipindahkan keluar Jazirah Arab, yaitu ke Syria. Pada masa ini dasar-dasar demokrasi Arab lenyab kerena jabatan khalifah diegang secara turun temurun. Hidup khalifah sama dengan raja kekuasaannya yang mutlak.
Wilayah kekuaasaan negara islam zaman Khalifah Umayyah meliputi wilayah yang sangat luas dan merupakan negara islam terbesar di dunia. Wilayah kekuasaan meluas ke sebelah barat sampai ke dareah Spanyol dan ke sebeah timur sampai ke daratan Pakistan dan Asia Tenggara.
Pada wal tahun 750 M, terjadi perebutan kekuasaan terhadap keluarga Umayyah, oleh golongan Abbasiyah. Dalam perebutan kekuasaan itu, hampir seluruh keluarga Umayyah dimusnahkan. Hanya seorang yang berhasil meloloskan diri, yaitu Abdur Rachman.
Karena ibunya berasal dari Afrika Utara, akhirnya ia di terima oleh uah islam di situ. Selanjutnya, ia diangkat menjadi panglima. Ia pergi ke Spanyol untuk memperbaharui pendirian keamiran di sana.
Kekhalifahan Abbsiyah
Dengan keberhasian golongan Abbsiyah menhancurkan kekhalifahan Umayyah, maka pusat kekhalifahan dioindahkan dari Syria ke Baghdad. Kekhalifahan Abbsiyah (750-1258 M) mengalami perkembangan yang cukup pesat dan pada masa Harun Al Rasyid (786-809 M) mencapau puncak gemilng . hal ini tidak lepas dari berikut:
Baghdad merupakan pelabuhan Trantiso dan perdaganganny maju pesat, oleh karenaitu makin lama makin kaya.
Buku-buku filsafat dan ilmu pengetahuan, baik dari Yunani maupun dari Persia diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Melalui daerah Spanyol, filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani seperti Plato, Aritotheles masuk ke Arab. Baghdad merupakan mutiara dunia timur, sumber ilmu pengetahuan dan keindahan.
Harun Al Easyid mengadakan persahabatan dengan Prancis. Peristiwa ini terjadi berdasarkan situasi politik sebagai berikut:
Baghdad bermusuhan dengan Byzantium dalam memperubutkan daerah Asia kecil.
Baghdad bermusuhan dengan Keamiran Cordoba (Spanyol) dalam memperebutkan daerah pantai utara Afrika dan karena Cordoba tidak mau mengakui kekhalifahan Baghdad.
Prancis bermusuhan dengan Cordoba dalam memperebutkan daerah Spanyol utara , juga bermusuhan dengan Buzantium, karena daerah itu termasuk daerah Italia.
Dalam perkembangan berikutnya kekhalifahan mengalami kemunduran. Hal ini disebabkan oleh:
Terjadinya perebutan jabatan khalifah diantara keluarga sendiri, sehingga dalam istana terdapat kelompok-kelompok yang saling bertentangan.
Tertentangan itu mengakibatkan pemerintahan pusat menjadi lemah. Sehingga deareah-daerah banyak yang memerdekakan diri.
Pertentangan ini terus berkembang terus menerus sehingga dalam abad ke-10 M terdapat tiga kekhalifahan, yaitu Kekhalifahan Abbsiyah, Kekhalifahan Fatimiyah, Kekhalifahan Cordoba.
Kekhalifahan Cordoba
Abdur Rachman, satu-satunya keturunan kekhalifahan Umayyah yang berhasil menyelamatkan diri dari serangan golongan Abbsiyah, mendrikan kekhalifahan Cordoba di Spanyol. Ia tetap menyebut dirinya Amir dan tidak mengakui Kekhalifahan Baghdad. Baru pada masa kekuasaan Abdur Rachman III, Cordoba menyatakan dirinya sebagai khalifah dan kedudukannya seimbang dengan Kekhalifahan Baghdad (929 M).
Pada zaman kekhalifahan Cordoba, ilmu pengetahuan dan kebudayaan berkembang dengan pesat. Ahli-ahli bangungan, tabib, ahli pakaian, ahli-ahli fikir, pengarang dan ahli-ahli kemasyarakatan banyak terdapat di Cordoba. Hal ini disebabkan mereka mendapat perlindungan dari khalifah. Cordoba terasuk tempat kebudayaan penting di samping Baghdad dan Konstatinopel.
Kemajuan dalam bidang kebudayaan itu mendorong orang-orang Eropa untuk belajar di Spanyol. Kebudayaan Timur yang telah lebih tinggi dan juga warisan kebudayaan Romawi kuno yang telah hilang, diketemukan kembali di Spanyol.










