This is default featured post 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured post 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured post 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Rabu, 04 Januari 2012
Tegur
Togo Concong Luar
1. Definisi dan Klasifikasi
Togo concong luar merupakan alat tangkap yang berupa perangkap sekaligus penghadang dan mengandalkan arus pasang surut. Terdari jadi dari jaring dan penaju. Alat tangkap ini bersifat pasif sama. Dengan hanya mengandalkan pasang surut, alat ini digunakan. Menurut sisten klasifikasi alat tangkap indonesia, alat ini masuk kedalam klasifikasi perangkap dan penghadang (Subani dan barus, 1989).
2. Konstruksi Alat Penangkapan Ikan
Togo concong luar terdiri dari bagian :
a. Jaring yang terbuat dari bahan polyamide. Adapun alat ini terbagi menjadi dua bagian utama yaitu, penajur dan jaring berkantong sebanyak 2 buah.
b. Penaju merupakan tiang-tiang penghadang yang terbuat biasanya dari bambu atau besi yang disusun sedemikian rupa hingga membentuk barisan.
c. Sedangkan untuk jaring sendiri terbagi menjadi beberapa bagian seperti tali ris atas dan tali ris bawah serta kantong yang terbentuk di belakang jaring dengan cara mengikat bagian ujung jaring, dan untuk mempermudah pengangkatan digunakan semacam ring di bagian ujung tali ris. (Ayodyoa, 1981).
Menurut kelompok kami, parameter utama dari alat tangkap ini adalah kerapatn penaju sebagai penghadang dan pengarah ikan untuk masuk kedalam jaring.
3. Kelengkapan dalam Unit Penangkapan Ikan
3.1 Kapal
Pada pengoprasian alat ini, bisa mengunnakan perahu, namun juga ada yang tidak peru menggunakan perahu karena alat ini cukup hanya dipasang pada pinggir pantai, atau pantai yang tidak terlalu dalam, karena alat ini hanya membutuhkan arus pasang surut (Ayodyoa, 1981).
3.2 Nelayan
Pada penyusunan dan pengoprasian kontruksi alat tangkap ini membutuhkan nelayan sekurang-kurangnya 2 orang. Pembagian tugas nelayan yaitu satu orang sebagai pengoperasi alat pada saat mengangkat hasil tangkapan dan satu orang mengendalikan perahu pada saat pengangkutan hasil tangkapan. Tugas nelayan disini tidak terlalu sulit karena nelayan hanya menunggu ikan masuk ke alat lalu setelah ikan terkumpul nelayan mengankat dan memindahkan hasil tangkapan ke perahu untuk di angkut ke darat (Subani dan barus, 1989).
3.3 Alat bantu
Menurut kelompok kami, pengoperasian alat tangkap ini tidak menggunakan alat bantu karena kami tidak menemukan sumber yang menyatakan hal tersebut.
3.4 Umpan
Menurut kelompok kami alat ini tidak menggunakan umpan untuk memikkat ikan, tetapi dengan hanya mengandalkan arus pasang surut.
4. Metode Pengoperasian Alat
Pengoperasian alat tangkap togo concong luar ini tidak memerlukan perlakuan khusus karena pengoperasiannya sangat sederhana. Tahap-tahap yang harus dilakukan diantaranya adalah pemasangan alat pada daerah fishing ground yang telah ditentukan. Kemudian pengoperasian alat dengan cara membiarkan alat berada di dasar perairan pasang. Lalu setelah air surut dan ikan terkumpul dilakukan proses hauling atau penarikan jaring untuk mengangkat dan memindahkan hasil tangkapan ke perahu. Setting alat tangkap ini umumnya pada waktu pasang mendekat pantai dan waktu surut menjauhi pantai. Pengambilan hasil dilakukan pada waktu air surut dalam keadaan kering, setengah kering atau mungkin masih tergenang air. Parameter utama dari alat tangkap togo concong luar ini adalah bukaan mulut jaring berkantung dan luas mulut penajur yang dipasang. (Subani dan barus, 1989)
5. Daerah Pengoperasian Alat
Pengoperasian alat tangkap togo concong luar ini sangat bergantung sekali pada arus pasang surut air laut yang perbedaan pasang dan surut dengan tinggi (4 - 6 m). Karena membutuhkan arus pasang surut maka togo concong luar dioperasikan pada perairan dangkal sekitar pantai. Topografi dasar perairan yang digunakan umumnya terdiri atas lumpur atau pasir sehingga memberi kemudahan dalam penanaman tiang-tiang pancang. (Subani dan barus, 1989).
6. Hasil Tangkapan
Alat tangkap togo concong luar ini menggantungkan hasil tangkapan kepada arus pasang surut, Sehingga hasilnya cukup banyak. Hasil tangkapan utama dari alat ini adalah ikan-ikan yang berada pada daerah sekitar pantai, seperti belanak (Mugil sp.), bulu ayam (Engraulis spp), udang kembung (Panaeus sp.). Dan juga ikan-ikan yang beruaya secara horizontal seperti ikan-ikan pelagis yaitu kembung (Rastraliger sp.), tongkol (Auxis sp.), dan lain-lain (Subani dan barus, 1989).
7. Daftar Pustaka
Ayodhyoa, AU. 1981. Methode penangkapan ikan. Yayasan Dewi Sri, CV Gaya Tehnik. Bogor.
Subani W dan HR Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. No. 50. Jakarta: Balai Penelitian Perikanan Laut Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.
Bubu Sungai
1. Definisi dan Klasifikasi
Bubu adalah salah satu alat perangkap yang bersifat statis, umumnya berbentuk kurungan atau tabung, berupa jebakan dimana akan mudah masuk tanpa adanya paksaan dan sulit keluar karena dihalangi dengan berbagai cara. Menurut klasifikasi A. Von Brandt, bubu sungai termasuk dalam kelompok perangkap (Traps). (A. Von Brandt, 1989)
2. Konstruksi Alat Penangkap Ikan
Bubu sungai ini memiliki kostruksi sebagai berikut :
a. Badan, seperti rongga (berbentuk silinder) yang terbat adi anyaman bambu, berfungsi sebagai tempat sasaran terperangkap
b. Mulut berbentuk linkarangan, merupakan lubang tempat masuknya ikan ke dalam bubu sungai.
c. Gigi penghalang, merupakan penghadang ikan untuk keluar dari bubu. (Subani dan Barus, 1989)
3. Kelengkapan dalam Unit Penangkapan Ikan
3.1. Kapal
Menurut kelompok kami, kapal yang digunakan untuk pengoperasian alat tangkap ini hanya membutuhkan perahu kecil saja. Karena pengoperasian alat tangkap ini tidak memerlukan orang yang banyak.
3.2. Nelayan
Menurut kelompok kami, nelayan yang beroperasi ini mungkin hanya satu orang. Karena metodenya yang sederhana dan cukup mudah
3.3. Umpan
Alat tangkap ini dapat dioperasikan menggunakan umpan atau tidak menggunakan umpan. Alat tangkap ini bisa dipasang umpan, untuk menarik perhatian agar ikan dapat masuk kedalam bubu. Sedangkan bubu yang tidak dipasang umpan hanya membutukan arus sungai dan tingkah laku ikan yang senang bersembunyi. (Subani dan Barus, 1989)
3.4. Alat Bantu
Menurut kelompok kami, alat tangkap ini tidak memerlukan alat bantu lagi. Karena alat ini hanya membutuhkan arus sungai. Dan ketika ikan sudah terkumpul didalam bubu, maka alat tinggal dinaikkan ke perahu saja.
4. Metode Pengoperasian
Bubu sungai diturunkan dan dioperasikan secara menetap disungai. Kemudian bubu dipasang selama 5-8 jam. Setelah itu, bubu sungai diangkat untuk diperiksa. Terlebih dahulu bubu ditutup pintunya agar ikan tidak terlepas. (Subani dan Barus, 1989)
5. Daerah Pengoperasian
Daerah pengoperasian bubu sungai ini biasanya pada daerah sungai berbatu dan mempunyai arus yang tidak begitu deras. (Subani dan Barus, 1989)
6. Hasil Tangkapan
Hasil tangkapan adalah ikan-ikan sungai yang senang bersembunyi pada apa saja yang berada disungai, serpeti sepat, betok, tawes, gabus, mujair, dan sidat. (Subani dan Barus, 1989)
Daftar Pustaka
Brandt, Andres Vont. 1984. Fish Catching Methods of The World. England : Fishing new books Ltd.
Subani W dan HR Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. No. 50. Jakarta: Balai Penelitian Perikanan Laut Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.
Pesambet
1. Definisi dan Klasifikasi
Pesambet merupakan alat tangkap yang terbuat dari anyaman bambu dengan kerangka yang berbentuk kecurut dengan gagang bambu sebagai pegangan dan dioperasikan pada perairan yang berlumpur atau ditumbuhi tanaman air. Alat tangkap ini termasuk dalam klasifikasi alat tangkap lain-lain (A Von Brant, 1984).
2. Konstruksi Alat Penangkapan Ikan
Pesambet memiliki badan berbentuk kerucut yang terbuat dari bambu. Bagian atas terdiri dari semacam gagang dari batang bambu yang berfungsi untuk pegangan tangan untuk menancapkan ke target. (Subani dan Barus 1989)
Menurut kelompok kami, parameter utama dari alat tangkap ini adalah ukuran alat tangkap (proporsional alat tangkap) dan ketepatan penggunaan bahan. Semakin kuat ikatan pada simpul pada badan pesembet, maka kekuatan dari perangkai bambu sangat berpengaruh.
3. Kelengkapan dalam Unit Penangkapan Ikan
3.1. Kapal
Menurut kelompok kami, kapal yang digunakan untuk pengoperasian alat tangkap ini hanya membutuhkan perahu kecil saja. Karena selain bentuknya yang sederhana, cara pengoperasiannya pun sederhana.
3.2. Nelayan
Menurut kelompok kami, nelayan yang bertugas untuk pengoperasian alat ini tidak diperlukan dalam jumlah banyak. Mungkin hanya satu atau dua orang saja. Orang pertama sebagai pengemudi perahu atau sampan, sedangkan orang kedua merupakan orang yang bertugas mengoperasikan alat tangkap tersebut.
3.3. Umpan
Menurut kelompok kami, alat tangkap pesambet ini saat pengoperasiannya tidak memerlukan umpan. Karena pengoperasiannya sederhana, hanya ditancapkan pada sasaran saja.
3.4. Alat Bantu
Menurut kelompok kami, alat tangkap ini tidak ada alat bantu yang digunakan lagi. Karena dari alat tangkap ini saja kita sudah bisa mengangkat ikan dari perairan.
4. Metode Pengoperasian
Pengoperasian alat tangkap ini dilakukan dengan cara menjatuhkan kearah sasaran tangkapan. Tangkapan yang telah dijatuhi oleh alat tangkap ini maka akan terperangkap dan tidak dapat melarikan diri. Setelah sasaran terperangkap, maka dengan segera nelayan menaikkan ikan hasil tangkapan ke perahu atau sampan. (Subani dan Barus 1989)
5. Daerah Pengoperasian
Daerah pengoperasian pesambet ini umumnya di daerah sungai beraliran tenang atau deras. Namun, bisa juga diperasikan di bibir-bibir pantai yang tidak terlalu dalam. (Mulyono, 2002)
6. Hasil Tangkapan
Hasil tangkapan pun beragam seperti ikan tawes, udang galah, lele, sepat, mujair, bahkan sidat. Ketika dioperasikan di bibir pantai, hasil tangkpannya seperti ikan kipper atau kepiting pantai. (Mulyono, 2002)
Daftar Pustaka
Baskoro, Mulyono S. 2002. Metode Penangkapan Ikan. Bogor. : Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.
Brandt, Andres Vont. 1984. Fish Catching Methods of The World. England : Fishing new books Ltd.
Subani W dan HR Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. No. 50. Jakarta: Balai Penelitian Perikanan Laut Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.
ALAT PENGUMPUL KERANG
1. Definisi dan Klasifikasi
Alat pengumpul kerang adalah alat tangkap yang didesain khusus untuk mengumpulkan kerang, terdiri dari kantong yang di bagian mulutnya diberi bingkai besi berbentuk segitiga sama sisi. Alat pengumpul kerang diklasifikasikan ke dalam alat pengumpul (Subani dan Barus 1989).
2. Konstruksi Alat Penangkap Ikan
Konstruksi dan ukuran bagian-bagian penggaruk kerang menurut Subani dan Barus (1989) yaitu sebagai berikut.
a. Mulut raga, di bagian ini diberi bingkai dari besi berbentuk segitiga sama sisi dengan ukuran ketiga sisinya 80 cm x 80 cm x 80 cm;
b. Kantong, dibentuk dari anyaman kawat, bagian ujungnya berbentuk agak membulat, berfungsi sebagai tempat kerang ditangkap;
c. Gigi raga, terbuat dari bahan besi (gigi garuk) di bagian bawah bingkai;
d. Lempengan besi yang mengelilingi mulut garuk, merupakan penghubung antara mulut bingkai dengan anyaman kawat dengan ukuran 2,5 cm;
e. Tangkai yang terbuat dari bambu dengan panjang 4-5 m yang digunakan oleh nelayan saat mengangkat kerang yang tertangkap.
Menurut kelompok kami, prameter utama dari alat pengumpul kerang adalah konstruksi dan ukuran bingkai.
3. Kelengkapan dalam Unit Penangkapan Ikan
3.1 Kapal
Menurut kelompok kami, perahu yang digunakan adalah perahu tanpa motor terbuat dari kayu digunakan sebagai alat transportasi nelayan dan sebagai penarik alat pengumpul kerang.
3.2 Nelayan
Menurut kelompok kami, jumlah nelayan yaitu 2-3 orang nelayan, satu orang bertugas sebagai juru kemudi, satu orang bertugas untuk menurunkan garuk pada saat setting dan satu orang bertugas untuk menyortir kerang hasil tangkapan dan memasukkan kerang hasil tangkapan ke dalam keranjang. Namun pengoperasian ini bisa dilakukan secara perseorangan. Karena alat ini bisa dioperasikan di pantai yang tidak terlalu dalam.
3.3 Alat Bantu
Alat bantu pada pengoperasian alat pengumpul kerang adalah gulungan (roller) untuk membantu penarikan alat pengumpul kerang (Subani dan Barus 1989)
4. Metode Pengoperasian Alat
Pengoperasian alat pengumpul kerang dilakukan dengan perahu sebagai alat penarik, umumnya dilakukan pada siang hari. Cara pengoperasiannya yaitu menurunkan 2-6 alat pengumpul kerang sekaligus dari sisi kiri/kanan perahu kemudian ditarik menelusuri dasar perairan menggunakan tali panjang (300-500 m) yang salah satu ujungnya diikat pada patok (tiang pancang atau jangkar). Untuk membantu penarikan, digunakan alat bantu berupa penggulung (roller). Setiap kali pada jarak tertentu, alat pengumpul kerang diangkat ke atas perahu untuk pengambilan hasil tangkapan. Hal ini terus dilakukan sampai tali habis tergulung, artinya telah dilakukan beberapa kali pengangkatan alat pengumpul kerang (Subani dan Barus 1989).
5. Daerah Pengoperasian
Daerah pengoperasian alat pengumpul kerang adalah di dasar perairan, bisa di pantai berpasir atau berlumpur. Distribusi alat pengumpul kerang yaitu di Jakarta (Kamal), (Subani dan Barus 1989).
6. Hasil Tangkapan
Hasil tangkapan alat pengumpul kerang adalah kerang darah (Anadara granosa) dan kerang bulu (Anadara inflata) (Subani dan Barus 1989).
7. Daftar Pustaka
Subani W dan HR Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. No. 50. Jakarta: Balai Penelitian Perikanan Laut Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.
Siagian SF. 2002. Analisis Hasil Tangkapan Kerang Menggunakan Penggaruk Kerang Dregde Gear dan Kemungkinan Bentuk Pengembangan Produksi Hasil Tangkapan di Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Skripsi [tidak dipublikasikan]. Bogor: Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. 104 hal.









